Adat: Sinkretisme yang Damai dan Dinamis

December 31st, 2008

Yang pertama ingin saya sampaikan adalah ritual yang umum dikenal masyarakat, yaitu selametan. Bentuk selametan bermacam-macam, tergantung proses intensitas relasinya dengan budaya lain. Bagi suatu masyarakat yang telah mengalami puritanisasi yang efektif, bentuk selametannya miskin simbol dan refresensinya adalah keotentikan ritual. Sebaliknya yang mengalami kesetiaan kepada nilai-nilai lama, ritual selametannya menunjukkan kekayaan simbol dan keterikatan terhadap kesepakatan-kesepakatan non formal. Tetapi semua selametan memperlihatkan hal yang sama, yaitu berkumpulnya orang-orang yang sepakat berbeda berada dalam ketundukan bersama dalam satu tempat. Read the rest of this entry »

Komunitas Adat di Banyuwangi

December 31st, 2008

Dalam lokakarya Jaringan Pembelaan Hak-Hak Masyarakat Adat (JAPHAMA) di Tana Toraja tahun 1993, dirumuskan definisi masyarakat sebagai berikut: “….kelompok masyarakat yang memiliki asal-usul leluhur (secara turun-temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, idiologi, ekonomi, politik, budaya, sosial, dan wilayah sendiri”. Kalau kita sepakat dengan definisi di atas, berarti masyarakat adat memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) memiliki asal-usul leluhur secara turun-temurun, 2) tinggal di wilayah geografis tertentu, 3) memiliki sitem nilai sendiri, 4) memiliki idiologi sendiri, 5) memiliki sitem ekonomi sendiri, 6) memiliki tatanan politik sendiri, 7) memiliki keragaman budaya sendiri, 8) memiliki struktur dan kehidupan sosial sendiri, dan 9) masih melaksanakan adat, budaya, hukum adatnya. Read the rest of this entry »

Masyarakat Adat Dalam Perspektif Ketatanegaraan

December 31st, 2008

Keberadaan masyarakat adat dalam ketatanegaraan Indonesia telah jelas dalam perumusan negara-bangsa. Prinsip negara persatuan, yaitu negara yang meli9ndungi dan meliputi segenap bangsa seluruhnya diletakkan dalam pembukaan UUD sebagai nilai dasar. “Bhinneka Tunggal Ika” merupakan semboyan yang ingin menggambarkan keanekaragamn bangsa Indonesia namun bisa hidup bersama dalam satu negara yang berdaulat. Kemudian dalam perdebatan pilihan bentuk negara, pilihan terhadap negara kesatuan tidak pernah dimaksudkan negara mengambil alih hak-hak kedaerahan. Dengan kata lain penyusun UUD 1945 tidak pernah mencita-citakan Indonesia menjadi negara kesatuan yang sentralistik dengan menihilkan hak-hak kedaerahan. Read the rest of this entry »

Masyarakat Adat Dalam Isu Global

December 31st, 2008

  HASAN BASRI

 

Tahun 1993 telah ditetapkan PBB sebagai Tahun Masyarakat Adat (Indigenous Peoples’ Year). PBB juga menetapkan dasa warsa dari tahun 1995 sampai 2005 sebagai “Dasa warsa Masyarakat Adat Dunia”. Besarnya perhatian dunia terhadap masyarakat adat nampak dari pidato Sekjen PBB yang disampaikan khusus pada peringatan Hari International Masyarakat Adat sedunia yang menyatakan:

“Peringatan Hari Masyarakat Adat Se-Dunia adalah moment untuk mengingatkan kita bahwa masyarakat adat masih terus mengalami diskriminasi, marginalisasi, kemiskinan dan konflik yang parah; mereka tercerabut dari tanah dan kehidupan tradisionalnya , pemindahan paksa, penghancuran system kepercayaan mereka, budaya, bahasa dan cara hidup, dan bahkan ancaman terhadap kepunahan.”

 

Siapakah masyarakat adat itu?

Menyebut masyarakat adat, yang ada di pikiran orang biasanya adalah sekelompok kecil masyarakat, penduduk asli dari sebuah negara atau daerah, orang-orang pinggiran yang hidup di hutan, padang pasir, kutub, masyarakat tertindas, atau mereka yang budayanya berbeda dari masyarakat umum di sekitarnya. Read the rest of this entry »

MUSEUM BLAMBANGAN DULU, KINI DAN AKAN DATANG

December 23rd, 2008

Hasan Basri

100_1425 

 

A.  Purwa Wacana

Seperti dikatakan oleh Winarsih PA, bahwa kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang semasa dengan kerajaan Majapahit bahkan dua abad lebih panjang umurnya. Hal ini sering tidak disadari oleh para ahli sejarah. Ini terbukti dari sedikitnya perhatian terhadap sejarah Blambangan. Empat abad perjalanan sejarah Blambangan tentu tak mungkin tidak meninggalkan jejak. Walau disadari, sejak awal berdirinya, kerajaan Blambangan selalu dilanda peperangan yang seolah tak ada hentinya. Kondisi politik yang labil memang memungkinkan kita menyadari dan hawatir bahwa tidak banyak peninggalan sejarah Blambangan yang dapat kita temukan. Namun dari beberapa data sejarah dan situs-situs yang ditemukan menunjukkan di Banyuwangi banyak terdapat peninggalan sejarah yang sangat berharga. Read the rest of this entry »

SUWARGA NERAKA

November 26th, 2008

       100_24061                                                              Agama wis lawas mudhun nyang donya. Sakat nabi Adam sampek saiki. Wis pirang-pirang nabi gentenan nguweni piduduh nyang menungsa. Wis pirang-pirangane lembar kitab suci diwaca menungsa. Lan wis pirang-pirangane tumpuk buku asile mahami kitab suci ditulis.

Paran perlune agama diugemi menungsa. Ya mesti baen kanggo tentreme, rukune, ayeme, senenge, bungahe, padhange uripe kabeh menungsa ring donya. Dudu kanggo rucese, tukarane, musuhane, susahe, bingunge, petenge uripe sekabehe sepadha-padha menungsa.

Naming selawase jaman iki melaku, kang wis kelakon dudu tentrem rukun bungah kang kedaden, naming sebalike, ruces tukaran, bangkel musuhan, pating nyalahaken  kelawan nggawa bendera agama, paham, aliran, pengerten dhewek-dhewek. Dadi kita kabeh bisa takon kelawan jujur, paran ulihe manungsa ngugemi agama selawase iki. Dudu derajat kang bisa njunjung kemulyane menungsa, naming kedaden-kedaden kang ngisin-ngisini dilakoni mahluk kang nerima kitab suci lan nduweni sukma nurani. Read the rest of this entry »

JATIDHIRI

November 26th, 2008

 

100_0846Kabeh weruh kadhung jaman iki melayune wis adoh lan terus melayu nerak paran baen kang nyerintungi lakune. Sing keneng dipungkiri jaman kang diarani globalisasi iki dikuwasani ambi polah laku konsumerisme kang dadi terusane kapitalisme. Polah laku konsumerisme iki nerak paren baen, embuh kang turu embuh kang njegog kabeh keneng keserimpung. Awasnatah ring lurung, ring tokok ring tipi kabeh ubeg kelawan semangat lan nilai-nilai konsumerisme. Polah laku konsumerisme iki sing mung ngumbah lan ngelir laku urip sedina-dina, naming uga ngumbah laku pikir lan imajinasi. Read the rest of this entry »

ADAT KANG NGERUMAT

November 26th, 2008

 

 100_23461

Nurut Koentjaraningrat, adat iku wujud ide, gagasan, norma teka kebudayan tertemtu. Norma pungsine ngatur laku urip. Misale, kadhung ana tanggane iwuh, para tangga teparo padha teka nggawa beras, para bungkil, picis. Kadhung parine melecuti, dianakaken selametan “ngerujaki”. Ring kutha, lebaran pating kirim kartu lebaran, lan sepitirute.

Ide, norma, tata laku sipate abstrak. Sing keneng diusuk. Manggone ring utek. Isine konsep-konsep tata urip kang dianggep luhur. Kerana abstrak, akeh-akehe irrasional. Naming kerana iku biyasahe manggon jangget ring ati. Mulane masiya akeh-akehe adat iku sing melebu akal, mohal, nganeh-nganehi, naming masarakat kang ngugemi sing wani ninggalaken. Wong liya ndeleng adat “ngerujaki”, mikir. Paran temaline antarane rujak ambi pari melecuti. Naming dulur Kemiren emong ninggalaken adat iku. Paran temaline ngelarung gitik kang isi sajen nyang segara ambi asil laut? Naming dulur-dulur Muncar, pengingen, sing kira gelem. Salah-salah malah ngamuk. Polahe norma, nilai budaya iku sipate abstrak, manggone jangget ring jero ati lan duwe karep kang dianggep luhur.

Nalika bangsa Indonesia ngawiti pembangunan, kepingin dadi negara modern kaya negara-negara maju. Sing weruha tanpa kerasa milu mili, niru lan ngetutaken cara pikir barat kang muja rasionalitas. Kurikulum ring sekolahan, njunjung lan ngistimewakaken wewulangan kang nguja rasio. Wewulangan kang ngemong rasa, norma, imajinasi, minggir lan dipinggiraken. Akibate, lare-lare sekolah, anak-anak kita kabeh, saiki mangkat nggugat paran pentinge ngerumat adat. Read the rest of this entry »

DARI BROMOCORAH KE BARONG

November 26th, 2008

100_0129Sore hari, saya menuju Dusun Mangli, desa Jambesari. Desa yang terkenal punya kesenian Gembrung. Dari  Banyuwangi kota, ke arah barat lewat desa Bakungan. Nyebrang rel kereta api terus ke utara lewat jalan berliku jurusan Gerogol. Sekitar 3 km sampai dipertigaan menikung, ada tulisan di papan kayu kecil dipaku di batang pohon tertulis “ke Mangli” disertai tanda panah. Jalan tanah naik turun, kanan kiri ladang. Sampai turunan curam, jalan diperkeras dengan semen, tapi hanya selebar bisa diliwati satu sepeda motor. Kalau ada salipan, harus berhenti salah satu. Sampailah disebuah kampung pinggir sungai curam. Rumah-rumah penduduk berhimpitan di lereng sungai. Seperti mainan anak-anak ditumpuk-tumpuk ada yang tinggi ada yang rendah. Jalan curan turun, meliwati jembatan beton kokoh. Sebelum jembatan rame anak muda main voli bal. tanya rumahnya orang yang punya kesenian barong, langsung ditunjukkan nama Pak Asrin. Rumahnya sudah nampak dari kejauhan dari sela-sela rumah lain yang jejer di lereng sungai. Sampai pada jalan berkerakal, ada gang dilapis semen naik. Dua rumah dari bawah, rumah Pak Asrin menghadap ke timur. Rumah bertembok, jendela kaca, berteras luas. Mengesankan rumah ini dulunya baik, namun sekarang kurang terawat. Pak Asrin, keluar baru bangun tidur.

Masuk  rumah, hanya ada kursi meja tamu yang berantakan. Duduk harus milik meletakkan pantat. Ruang tamu yang luas, hanya nampak dua pintu kamar. Sebelah kanan meja kursi tamu, kosong tidak ada perabot. Pojok sebelah barat depan kamar, teronggok barong. Barong  yang kusam, lusuh tak terawat. Sebelah kiri ada pintu menuju dapur. Read the rest of this entry »

Visualisasi, antara Idealisme dan Pragmatisme

October 11th, 2008

Para budayawan Banyuwangi melalui DKB (Dewan Kesenian Blambangan) pernah mengeluhkan tentang rendahnya kualitas klip musik Banyuwangi. Keluhan dan keberatan ini malah akhirnya berkembang pada kritik-kritik yang lebih detail. Misalnya kritik terhadap pakaian penari latar, gerakan tari yang dianggap tidak senonoh, bahkan sampai kriteria pakaian-pakaian yang dianggap tradisional. Kalau klip lagu Banyuwangi ya pakaian harus pakaian adat Banyuwangi, katanya.  Jangan campur baur yang bisa mengaburkan identitas budaya Banyuwangi. Dan berbagai keluahan yang lain soal klip lagu Banyuwangi.

Menindaklanjuti keresahan ini maka dikumpulkanlah para produsen dan pekerja rekaman di pendopo kabupaten dengan mendatangkan para kritikus lokal. Pada kesempatan itu diputar mana klip yang tak baik dan dijelaskan bagaimana sebaiknya. Termasuk juga bagaimana menyusun syair yang bagus dengan kadar sastra Using yang kuat.

Tapi begitulah idealisme kadang berlawanan dengan kecenderungan dan keinginan masyarakat. Masyarakat tetap tak peduli mana yang klip baik mana tidak. Masyarakat punya penilaian sendiri apa yang kan dibeli. Dan nyatanya apapun bentuknya produksi klip, diterima saja oleh masyarakat. Akhirnya pekerja rekaman kembali pada sikap pragmatis. Bikin klip yang sederhana tidak berbiaya tinggi tapi diminati masyarakat. Sekali lagi pasar memang memiliki keunikan tersendiri. Kiranya kita percaya kepada perjalanan waktu. Semakin beragam yang dicerna masyarakat semakin lama juga proses belajarnya masyarakat. Kiranya harapan kita pada idialisme visualisasi, misalnya bagaimana klip lagu itu benar-benar mencerminkan realitas pada masyarakat. Klip yang mempu memberikan penyadaran terhadap masyarakat, dan lain-lain, kita tunggu saja dan pasti sejalan paralel dengan kedewasaan masyarakat.